Suara tabuh rebana dan salawat bergema dari musala kecil di ujung gang. Asap dari tungku yang mengepulkan aroma nasi kuning dan ayam opor menguar, menari-nari di udara senja. Di rumah kecilnya, Fatimah tersenyum, hatinya dipenuhi kebahagiaan. Bulan Maulid telah tiba, bulan yang selalu ia tunggu-tunggu. Tahun ini, suasana terasa berbeda. Anak semata wayangnya, Ahmad, yang merantau ke kota, pulang. Sudah dua tahun ia tak merasakan hangatnya pelukan sang anak, tak mendengar tawa renyahnya. Kepulangan Ahmad menjadi hadiah paling istimewa di bulan penuh berkah ini. “Ibu, ingat tidak? Dulu, waktu aku masih kecil, setiap Maulid Ibu pasti membuatkan aku kue cucur paling enak,” ujar Ahmad sambil membantu Fatimah memotong sayuran. Fatimah tertawa. “Tentu saja. Dan setiap kali kamu makan, pipimu pasti belepotan gula merah.” Mereka mengenang masa lalu, masa-masa sederhana yang penuh cinta. Fatimah teringat bagaimana Ahmad kecil begitu antusias membantu menyiapkan hidangan. Bagaimana matanya be...