Maulid Nabi

Suara tabuh rebana dan salawat bergema dari musala kecil di ujung gang. Asap dari tungku yang mengepulkan aroma nasi kuning dan ayam opor menguar, menari-nari di udara senja. Di rumah kecilnya, Fatimah tersenyum, hatinya dipenuhi kebahagiaan. Bulan Maulid telah tiba, bulan yang selalu ia tunggu-tunggu. Tahun ini, suasana terasa berbeda. Anak semata wayangnya, Ahmad, yang merantau ke kota, pulang. Sudah dua tahun ia tak merasakan hangatnya pelukan sang anak, tak mendengar tawa renyahnya. Kepulangan Ahmad menjadi hadiah paling istimewa di bulan penuh berkah ini. “Ibu, ingat tidak? Dulu, waktu aku masih kecil, setiap Maulid Ibu pasti membuatkan aku kue cucur paling enak,” ujar Ahmad sambil membantu Fatimah memotong sayuran. Fatimah tertawa. “Tentu saja. Dan setiap kali kamu makan, pipimu pasti belepotan gula merah.” Mereka mengenang masa lalu, masa-masa sederhana yang penuh cinta. Fatimah teringat bagaimana Ahmad kecil begitu antusias membantu menyiapkan hidangan. Bagaimana matanya berbinar saat melihat piring-piring berisi kue dan lauk pauk yang akan dibagikan kepada tetangga. Malam puncak perayaan tiba. Musala dipenuhi jemaah yang khusyuk mendengarkan ceramah tentang keteladanan Nabi Muhammad SAW. Setelah ceramah, semua orang berkumpul di halaman. Lauk pauk dan kue-kue yang sudah disiapkan dihidangkan. Fatimah dan Ahmad sibuk membagikan makanan kepada semua orang yang datang, tua muda, kaya dan miskin. Semua menikmati hidangan dengan sukacita. Di tengah keramaian, Fatimah melihat seorang nenek tua duduk menyendiri di sudut. Wajahnya tampak lelah dan matanya terlihat sendu. Fatimah berbisik kepada Ahmad, “Nak, tolong antarkan sepiring nasi dan lauk untuk nenek itu.” Ahmad mengangguk. Ia berjalan menghampiri nenek itu, menyodorkan piring dengan senyum tulus. "Nek, silakan dinikmati. Ini hidangan dari rumah kami," katanya lembut. Nenek itu terkejut. Matanya berkaca-kaca. “Terima kasih, Nak. Sudah lama aku tidak merasakan kebaikan seperti ini,” ucapnya serak. Ahmad tertegun. Ia baru menyadari bahwa di tengah kemeriahan perayaan, masih ada orang yang merasa kesepian. Ia duduk di samping nenek itu, menemaninya makan, dan mendengarkan ceritanya. Ternyata, nenek itu tinggal sebatang kara. Malam itu, Ahmad belajar sebuah pelajaran berharga. Bahwa Maulid bukan hanya tentang perayaan, bukan hanya tentang hidangan enak, atau tentang berkumpul bersama keluarga. Maulid adalah tentang berbagi, tentang kasih sayang, tentang meneladani akhlak Nabi yang selalu peduli pada sesama, bahkan pada mereka yang tak dikenal. Keesokan harinya, sebelum Ahmad kembali ke kota, ia berpamitan kepada nenek itu. Ia berjanji akan sering mengunjunginya. Fatimah memeluk anaknya, air matanya menetes. “Ibu bangga padamu, Nak,” bisiknya. “Maulid tahun ini terasa sangat spesial, karena kamu pulang dengan membawa hati yang lebih mulia.” Ahmad tersenyum. Ia tahu, kenangan tentang Maulid tahun ini tidak akan pernah ia lupakan. Kenangan tentang kehangatan keluarga, kebahagiaan berbagi, dan pelajaran berharga tentang makna sejati dari sebuah perayaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Profil SMP Unggulan An-Nur Hidayatullah Talok Malang: Harmoni Pendidikan Formal dan Pesantren

Ekskul Jurnalistik SMP Annur Hidayatullah Turen Hasilkan Karya Kreatif